Djarum Foundation Mencari Kreator Muda Berbakat Bidang Seni Pertunjukkan

Sabtu, 30/September/2017 8:03:09
Bincang Kreatif Seni Pertunjukan Indonesia bersama para pakar seni pertunjukkan di Universitas Negeri Malang, Kota Malang, Jawa Timur

MALANG (Surabayapost.net) – Seni pertunjukkan di Indonesia minim generasi. Rendahnya regenerasi muda untuk menggeluti seni pertunjukkan disebabkan berbagai hal, mulai dari kurangnya kreator muda untuk menciptakan karya, pendanaan, hingga kehadiran teknologi baru.

Poin itulah yang mengemuka dalam Bincang Kreatif Seni Pertunjukkan yang digelar oleh Djarum Foundation dan Garin Nugroho di ruang pertunjukkan Teater, Universitas Negeri Malang (UM), pada Jumat sore, 29 September 2017.

Acara ini menghadirkan 3 pembicara utama, yakni Garin Nugroho Riyanto yang terkenal sebagai produser dan sutradara berbagai film, diantaranya Cinta dalam Sepotong Roti, Surat Untuk Bidadari, Soegija, Guru Bangsa : Tjokroaminoto, dan beberapa genre film lainnya.

Pembicara lainnya ialah Ratna Riantiarno yang kita kenal sebagai produser Teater Koma. Dan satu lagi ialah Adi Pardianto selaku Program Officer Bhakti Budaya Djarum Foundation.

Kota Malang dipilih sebagai salah satu tempat diselenggarakannya Ruang Kreatif: Bincang Seni Pertunjukan Indonesia bersama 3 kota lainnya, yaitu Kudus, Padang Panjang, dan Bandung.

“Program Ruang Kreatif telah rutin diadakan di Galeri Indonesia Kaya selama hampir dua tahun. Dibuat dengan tema yang beragam dan bertujuan untuk mengedukasi masyarakat khususnya generasi muda, sehingga tidak hanya menikmati pertunjukan tetapi juga mengetahui proses awal dalam sebuah seni pertunjukan,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Program yang bertujuan untuk menumbuhkan bakat-bakat baru kreator seni pertunjukan Indonesia ini digelar kembali setelah sebelumnya, pada tahun 2016 sukses digelar di 4 kota di Indonesia.

Renitasari menjelaskan, pada tahun lalu, bersama Garin Nugroho, pihaknya membuat program Bincang Seni Pertunjukan Indonesia, dengan harapan dapat menemukan dan melahirkan bakat-bakat baru kreator seniman muda Indonesia. Melihat tingginya antusiasme kelompok seni yang tersebar di Indonesia, maka Djarum Foundation kembali mengadakan program Bincang Seni sehingga proses regenerasi di bidang seni pertunjukan Indonesia tetap ada.

Dalam kesempatan yang sama, Garin Nugroho menyampaikan banyak hal agar seni pertunjukkan di Indonesia terus tumbuh dan muncul kreator-kreator muda yang mampu menciptakan karya spektakuler.

Salah satu disinggung Garin ialah memunculkan ide bagi seorang kreator. Menurut Garin, ide dari suatu pertunjukkan akan tumbuh dari mengamati dan mengambil dari referensi yang ada. Dia mengibaratkan ide layaknya tanaman. Jika ingin menanam kurma, maka harus melihat padang pasir, atau mau menanam padi, maka creator bs pergi ke sawah.

“Misalnya di Galeri Indonesia Kaya, disana terdapat banyak ide yang bisa dikembangkan oleh kreator muda. Rata-rata, creator mengembangkan idenya dan tidak lepas dari nilai-nilai yang ada di Indonesia,” jelas Garin.

Ditanya tentang regenerasi seni pertunjukkan, Garin tak menampik bahwa seni pertunjukan terus tumbuh dan berkembang di Indonesia, namun hal ini tidak dibarengi dengan regenerasi kreator muda yang mampu terus konsisten berkarya sekaligus membangun komunitas seni di lingkungannya.

“Berangkat dari hal tersebut, kami mengadakan program ruang kreatif yang mencari bakat-bakat para seniman muda baru di dunia seni. Harapan kami, melalui program ini dapat melahirkan para seniman muda Indonesia di dunia seni pertunjukan yang mampu bersaing dengan seniman yang ada di dalam maupun luar negeri,” ujar Garin Nugroho.

Program ini terbuka untuk seniman muda Indonesia dengan usia maksimal 30 tahun dan tergabung dalam komunitas seni. Mempunyai gagasan pementasan dituangkan dalam ‘Proposal Art Project’. Peserta dapat mengikuti ruang kreatif dengan cara mengirimkan proposal yang berisi gagasan pementasan dan mengisi serta mengirimkan formulir melalui email paling lambat 30 Oktober 2017.

Nantinya, sebanyak 25 peserta terseleksi yang diwakili oleh pimpinan produksi kelompok komunitas seni berhak mengikuti workshop di Galeri Indonesia Kaya pada tanggal 19 – 22 November di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

“Seni kreatif jangan hanya berbicara dengan seni teknologi canggih. Justru seni tradisional yang bisa menghidupkan, seperti Ludrukan, dan lain-lain, yang bisa menghidupkan termasuk seni teater. Itu butuh ruang pertumbuhan pertunjukkan dan bakar SDM,” tandas Garin.

Ratna Riantiarno turut berbagi pengalamannya selama berkiprah di Teater Koma. “Kesuksesan dan pencapaian Teater Koma selama 40 tahun tak lepas dari dukungan dan loyalitas krew dan pemain di Teater Koma. Tak hanya itu, relasi yang baik dengan para pihak pun dibutuhkan untuk menjaga agar kelompok seni tetap bertahan. Inilah yang ingin kami bagikan kepada kreator/seniman muda Indonesia, semoga materi yang disampaikan dalam program ini dapat tersampaikan dan diterima dengan baik oleh para peserta Bincang Seni Pertunjukan Indonesia pada hari ini,” ujar Ratna Riantiarno.

Kata Ratna, setiap kelompok harus memahami bentuk pertunjukkan seperti apa. Mayoritas sekarang, sutradara yang memegang semuanya. Misalkan mengatur panggung, cari sponsor, dan lainnya. Kondisi itulah, menurut penilaian Ratna harus ditinggalkan.

“Jadi harus bagi-bagi tugas, dengan melibatkan artistic dan non artistic. Dalam setiap pertunjukkan dulu tidak ada manajer panggung. Sekarang sudah harus ada. Zaman teknologi ada yang memakai multimedia, jadi itu bisa ditangani Technical Director. Begitu pula stage manager yang mengatur panggung. Jadi tidak semua sutradara,” tegasnya.

Tentang pendanaan suatu produksi, Ratna menyebut untuk seni pertunjukkans seperti teater jarang ada yang mau jadi produser. Jadi, harus bisa cari sponsor berupa apapun. Contohnya ialah sponsor makanan dan minuman, fasilitas ruang latihan, bahkan bantuan bentuk apapun.

“Jadi untuk biaya produksi, kita juga harus kreatif dan artistic tidak harus mewah. Namun harus realistis dan berkonsep,” pungkasnya.
Sekadar diketahui,PT Djarum memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang turut berperan serta dalam memajukan bangsa dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempertahankan kelestarian sumber daya alam Indonesia.

Berangkat dari komitmen tersebut, PT Djarum telah melakukan berbagai program dan pemberdayaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di masyarakat dan lingkungan selama kurun waktu 60 tahun. Pelaksanaan CSR ini dilaksanakan oleh Djarum Foundation yang didirikan sejak 30 April 1986, dengan misi untuk memajukan Indonesia menjadi negara digdaya yang seutuhnya melalui 5 bakti, antara lain Bakti Sosial, Bakti Olahraga, Bakti Lingkungan, Bakti Pendidikan, dan Bakti Budaya. Semua program dari Djarum Foundation adalah bentuk konsistensi Bakti Pada Negeri, demi terwujudnya kualitas hidup Indonesia di masa depan yang lebih baik dan bermartabat.

Dalam hal Bakti Budaya Djarum Foundation, sejak tahun 1992 konsisten menjaga kelestarian dan kekayaan budaya dengan melakukan pemberdayaan, dan mendukung insan budaya di lebih dari 2.500 kegiatan budaya.

Beberapa tahun terakhir ini, Bakti Budaya Djarum Foundation melakukan inovasi melalui media digital, memberikan informasi mengenai kekayaan dan keragaman budaya Indonesia melalui sebuah situs interaktif yang dapat diakses oleh masyarakat luas melalui www.indonesiakaya.com. Kemudian membangun dan meluncurkan “Galeri Indonesia Kaya” di Grand Indonesia, Jakarta.

Ini adalah ruang publik pertama dan satu-satunya di Indonesia yang memadukan konsep edukasi dan multimedia digital untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia agar seluruh masyarakat bisa lebih mudah memperoleh akses mendapatkan informasi dan referensi mengenai kebudayaan Indonesia dengan cara yang menyenangkan dan tanpa dipungut biaya. (Junaidi)

172 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan