Dinkes Surabaya Ingatkan Bahaya Fogging

Kamis, 12/Oktober/2017 22:42:32
Dr. dr. Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI saat memeaparkan bahaya yang ditimbulkan nyamuk dan pencegahannya

SURABAYA (Surabayapost.net)– Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya sangat hati-hati untuk melakukan fogging. Jika tidak terpaksa, maka fogging tidak akan dilakukan mengingat bahaya yang ditimbulkannya.

”Fogging akan kami lakukan kalau ada kasus endemik. Kalau tidak, tidak akan ada fogging. Kalau ada fogging hubungi Dinkes Surabaya. Karena fogging tidak sembarang dilaksanakan dan harus izin Puskesmas setempat,” tegas Mira Novia, selaku Kepala Bidang Pencegahan Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya.

Mira menilai, dampak dari fogging ialah nyamuk bisa lebih kebal. Selain itu, menimbulkan asap yang membuat pernafasan terganggu.

“Jadi di Surabaya untuk fogging, kami atur betul. Perusahaan fogging juga terus kita pantau. Kalau masih ada fogging hanya karena banyak nyamuk, tolong laporkan ke kami. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik yang menjadi cikal bakal nyamuk tidak mati oleh fogging,” jelasnya dalam Media Briefing dengan tema ”Nyamuk Bandel, Perkembangan dan Wabah yang Ditimbulkan”, yang digelar di Ruang Bali C, JW Marriott Hotel Surabaya, Jl. Embong No.85-89 Surabaya pada Kamis, 12 Oktober 2017.

Sebenarnya, kata Mira Novia, ada cara lain untuk mencegah munculnya nyamuk, yaitu PSN (pemberantasan sarang nyamuk) 3M Plus. Cara lain yang dilakukan Dinkes Kota Surabaya ialah membentuk Pokja DBD. Anggota Pokja tersebut berasal dari seluruh SKPD di wilayah Pemkot Surabaya.

Juga dilakukan dengan Gemakan Sama Sama (Gerakan Masyarakat Budayakan Satu Rumah Satu Jumantik). Untuk 1 jumantik, akan mengawasi 1-12 rumah. Mereka akan membersihkan jentik nyamuk, terutama di wilayah endemic.

“Yang bertanggung jawab ialah Camat. Mereka dan Lurah akan turun langsung memantau. Nanti dia yang akan melaporkan ke Walikota Suranaya untuk laporan hasil angka bebas jentik,” jelasnya.

Upaya lainnya untuk mencegah munculnya nyamuk DBD ialah melalui gerakan rutin tiap jumat, yaitu Jumat Bersih. Dan membuat surat edaran (SE) Walikota Surabaya tentang kewaspadaan dini DBD di Surabaya untuk seluruh RT/RW, camat, dan instansi.

“Kami juga melakukan intensifikasi di masyarakat maupun disiminasi informasi melalui media. Dan menggerakkan 22.250 orang pemantau jentik atau dikenall Bu Mantik. Itu untuk mengedukasi masyarakat dan memantau jentik di lingkungan permukiman masyarakat. Kader Bu Mantik diperkuat dengan SK Lurah,” katanya.

Dari data Dinkes Surabaya, tren kasus DBD mengalami siklus 3 tahunan. Data itu menyebutkan, tahun 2007 ada 3.214 kasus DBD. Berikutnya tahun 2008 ada 2.169 kasus, tahun 2009 ada 2.268 kasus, tahun 2010 ada 3.379 kasus, tahun 2011 ada 1.008 kasus, tahun 2012 ada 1.091 kasus, tahun 2013 ada 2.207 kasus, tahun 2014 ada 816 kasus, tahun 2015 ada 640 kasus, tahun 2016 ada 938 kasus, dan tahun 2017 sampai September ada 302 kasus. Untuk tahun 2017, yang paling banyak di Tambaksari.

“Karena di Tambaksari permukimannya padat sekali, sehingga banyak yang tertular. Lalu di Tandes juga demikian,” jelasnya.

Tentang bahaya fogging itu, Dr. dr. Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI dari Persatuan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi (PETRI) sependapat dengan Mira Novia.

“Fogging bisa mengganggu saluran pernafasan. Anehnya, di Indonesia fogging jadi tontonan. Kalau di negara lain, sebelum fogging diumumkan jauh hari. Intinya fogging tidak sehat dan hanya membunuh nyamuk dewasa,” tegasnya. (Junaidi)

266 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan