Senin, 11 Desember 2017

Keterangan Advokat Benyamin Justru Sudutkan Dokter Aucky

Rabu, 11/Oktober/2017 16:00:56
Advokat Benyamin Pangga saat bersaksi pada sidang gugatan dugaan malpraktik bayi tabung di PN Surabaya, Rabu (11/10/2017).

SURABAYA (surabayapost.net) – Benyamin Pangga, seorang yang berprofesi advokat dihadirkan sebagai saksi di sidang gugatan perdata atas dugaan malpraktik bayi tabung yang dilakukan dokter Aucky Ginting. Namun keterangan advokat Benyamin sebagai saksi justru kian menyudutkan posisi dokter Aucky atas terjadinya dugaan malpraktik bayi tabung.

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Jihad Arkhanudin, Benyamin mengaku ditunjuk oleh dokter Aucky untuk melobi Tomy Han dan Evelyn Soputra (penggugat), agar masalah dugaan malpraktik bayi tabung tidak berlanjut. “Saya berikan uang Rp 100 juta sesuai dengan kesepakatan,” kata Benyamin pada persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (11/10/2017).

Mendengar keterangan itu, Eduard Rudy Suharto, kuasa hukum penggugat langsung menyebut bahwa surat pernyataan itu ditandatangani penggugat pada saat persalinan. “Karena itu sudah kesepakatan dan saya tidak mengetahui kalau pasien dalam proses persalinan,” kata Benyamin menjawab pertanyaan Rudy.

Tak hanya itu, kesepakatan perdamaian ternyata dibuat sepihak oleh Benyamin atas petunjuk dokter Aucky. “Saat itu sempat beberapakali ada perubahan draft,” sambung Benyamin.

Namun sayangnya, Benyamin justru mengaku tidak mengetahui bahwa uang damai sebesar Rp 100 juta telah dikembalikan ke dokter Aucky. Ia bahkan juga mengaku tidak tahu bahwa surat kesepakatan sudah dicabut oleh penggugat. “Saya tidak mengetahui kalau soal itu,” katanya.

Usai sidang, Eduard Rudy Suharto menyambut positif keterangan saksi Benyamin di persidangan. Menurutnya, keterangan Benyamin justru menguntungkan pihanya. “Kan sudah jelas terungkap kalau perdamaian itu dilakukan sepihak. Keterangan saksi yang dihadirkan tergugat justru menguntungkan kami. Terlebih yang menunjuk mediator bukanlah penggugat tapi justru tergugat,” katanya.

Ketua DPC KAI Surabaya ini menjelaskan, uang Rp 100 juta yang diberikan dokter Aucky ke Tomy Han melalui Benyamin dinilainya sebagai uang pengakuan ‘dosa’ dokter Aucky atas kelalaiannya pada dugaan malpraktik bayi tabung. “Untuk apa uang 100 juta itu diberikan, kalau bukan untuk bungkam mulut korban dan merasa bersalah. Dengan diakui pengembalian uang tersebut maka semakin menunjukkan bahwa Tommy belum mendapat ganti rugi,” katanya.

Rudy menambahkan, Tommy Ham dan Evelyn Soputra terpaksa menandatangai kesepakatan damai lantaran takut dengan adanya ancaman dari Benyamin. “Saksi mediator memaksa menandatangani surat pernyataan jam 22.00 WIN saat Evelyn masuk rumah sakit. Tommy merasa ditekan karena ketakutan dibawa naik mobil dan dipaksa menerima uang tersebut. Bila tidak terima, saksi mediator bilang ke Tommy bahwa akan ada air bah,” bebernya.

Perlu diketahui, dokter Aucky Hinting digugat pasiennya yaitu Tomy dan Evelyn atas dugaan melakukan malpraktik bayi tabung. Saat itu, Tomy dan Evelyn yang ingin memiliki bayi laki-laki akhirnya mengikuti program bayi tabung di dokter Aucky dengan membayar biaya Rp 47 juta.

Singkat cerita, bayi yang dilahirkan Evelyn ternyata berkelamin perempuan. Ironisnya lagi, bayi tersebut kerap keluar masuk rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang buruk. Tak terima, Tomy dan Evelyn akhirnya menggugat dokter Aucky dengan tuduhan wanprestasi. (Arifan)

694 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan