Nutricia – Sarihusada Kampanye Bunda Tanggap Alergi dengan 3K

Minggu, 1/Oktober/2017 5:18:01
(Ki-Ka) dr. Nur Ramadhan Sp.A,M. Biomed (Dokter Spesialis Anak), Gisella Tani Pratiwi (Psikolog Anak & Keluarga) dan Prawira Winata (Allergy Care Manager Sarihusada) saat sedang menjelaskan mengenai bagaimana pentingnya bagi para orang tua khususnya Bunda untuk kenali, konsultasikan dan kendalikan alergi pada si kecil di RS Wava Husada, Sabtu (30/9/2017).

MALANG (Surabayapost.net) – Rangkaian seminar kesehatan Bunda Tanggap Alergi dengan 3K kini hadir di Malang. Kampanye yang dimulai pada bulan April 2017 ini telah sukses digelar di Jakarta, Medan, Surabaya, Makasar, Bandung, Yogyakarta, dan Bali.

Seminar kesehatan bertajuk Si Kecil Tetap Ceria Karena Bunda Tanggap Alergi dengan 3K ini yang dilaksanakan di Rumah Sakit Wava Husada, Malang, Jawa Timur. Malang sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur, menjadi pilihan Nutricia Sarihusada untuk mengadakan seminar kesehatan bersama dokter dan juga psikolog dengan tujuan untuk menambah pengetahuan para bunda mengenai penanganan alergi yang tepat bagi si Kecil, agar si Kecil tetap cerita dalam masa tumbuh kembangnya.

Prawira Winata selaku Allergy Care Manager Nutricia Sarihusada menjelaskan, tahun lalu pihaknya telah mengedukasi lebih dari 13 juta bunda melalui Bunda Tanggap Alergi dengan 3K.

“Tahun ini kami ingin kembali memberikan edukasi yang lebih mendalam mengenai alergi pada si Kecil melalui kampanye Si Kecil Tetap Ceria Karena Bunda Tanggap Alergi dengan 3K,” jelasnya.

Bunda diharapkan mendapatkan pengetahuan yang tepat mengenai alergi si Kecil melalui 3K, yaitu Kenali, Konsultasikan, dan Kendalikan.

Kenali – Kenali risiko dan gejala alergi yang dialami si Kecil. Orangtua harus mengenali diri sendiri, sifat si Kecil, bahkan lingkungan sekitar mereka untuk mengelola tantangan yang dihadapi dengan pola asuh yang tepat.

Konsultasikan – Konsultasikan ke dokter agar si Kecil memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat. Bila perlu, orangtua bisa mengajak anggota keluarga lain saat berkonsultasi agar tantangan bisa dihadapi bersama.

Kendalikan – Kendalikan penyebab alergi dengan asupan nutrisi yang tepat. Ubah gaya hidup sesuai dengan kebutuhan alergi si Kecil dan pintar mencari alternatif kudapan untuk si Kecil. Misal, jika si Kecil alergi protein susu sapi, hindari semua makanan dan minuman yang mengandung susu sapi lalu konsultasikan ke dokter mengenai alternatif nutrisinya.

Lebih lanjut Prawira menjelaskan, “Orangtua perlu mewaspadai alergi protein susu sapi pada si Kecil sejak dini, termasuk dampak fisik maupun psikis yang mungkin timbul dan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Sayangnya alergi seringkali luput dari perhatian orangtua karena dianggap sebagai hal sepele. Melalui penyelenggaraan seminar di Malang, kami berharap semakin banyak orangtua dan bunda menyadari pentingnya memahami alergi pada anak, dan mereka dapat meneruskan informasi ini lebih luas lagi ke seluruh kalangan.”

Dalam penyelenggaraannya tahun ini, Kampanye Si Kecil Tetap Ceria Karena Bunda Tanggap Alergi dengan 3K berfokus pada edukasi berkelanjutan bagi para orangtua. Meski si Kecil memiliki alergi protein susu sapi, mereka bisa tetap ceria dalam kesehariannya dan tumbuh sehat seperti teman seusianya. Oleh karena itu Nutricia Sarihusada juga menggandeng psikolog untuk mengangkat dampak psikologis pada si Kecil yang ditimbulkan oleh alergi.

Dampak alergi protein susu sapi bagi si Kecil World Allergy Organization menyatakan bahwa anak lebih berisiko mengalami alergi dibanding orang yang lebih tua. Anak lebih berisiko mengalami alergi jika memiliki riwayat penyakit atopik dalam keluarga seperti dermatitis atopik, asma, dan atau rinitis alergi dari setidaknya salah satu orangtua atau saudara kandung.

Selain faktor genetik, beberapa anak juga lebih berisiko mengalami alergi jika dilahirkan melalui operasi caesar, penggunaan antibiotik saat persalinan, hingga terpapar asap rokok. Lebih spesifik lagi, data dari Allergy & Asthma Foundation of America menyatakan bahwa alergi protein susu sapi merupakan salah satu alergi makanan yang paling banyak terjadi pada anak-anak.

Studi di beberapa negara menunjukkan bahwa 1 dari 25 anak mengalami alergi protein susu sapi yang tentunya diikuti risiko yang mungkin berdampak pada kesehatan si Kecil di masa depan.

dr. Nur Ramadhan, Sp. A, M. Biomed, menjelaskan, “Gejala akibat alergi susu sapi ini dapat menyerang sistem gastrointestinal (50-60%), kulit (50-60%), dan juga sistem pernapasan (20- 30%). Reaksi alergi dapat timbul berupa eksim pada kulit, mengi pada saluran napas, kolik, diare berdarah, hingga konstipasi. Jika tidak segera ditangani dan dibiarkan, keadaan ini dapat menganggu optimalisasi tumbuh kembang si Kecil dan memberi dampak jangka panjang terhadap kesehatan di usia dewasa.”

Ada berbagai macam gangguan tumbuh kembang yang mungkin terjadi pada si Kecil jika alerginya tidak tertangani dengan baik. Anak bisa tumbuh menjadi picky eaters sehingga mempengaruhi berat badan ideal dan juga pertumbuhan fisiknya.

Gangguan hormon akibat alergi juga berisiko memunculkan kegemukan atau obesitas, yang jika tidak dikendalikan akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan diabetes di masa depan. Tidak hanya secara fisik, alergi protein susu sapi juga berkaitan erat dengan aspek psikologis orangtua dan si Kecil.

Alergi protein susu sapi ini relatif lebih sulit ditangani karena alergen tidak selalu berbentuk susu, melainkan berbagai makanan olahan yang mengandung susu sapi. Alergi protein susu sapi dapat memengaruhi keceriaan si Kecil, karena ia merasa dibatasi dalam memilih makanan dan merasa berbeda dengan teman-teman seusianya. Hal ini dapat menyebabkan stres pada si Kecil, terutama saat ia harus mengambil keputusan sendiri tentang makanan yang boleh atau tidak boleh dimakan.

Oleh sebab itu kondisi ini memerlukan ketanggapan orangtua untuk mencermati kandungan dalam berbagai makanan dan mencermati gejala alergi pada anak salah satunya melalui langkah 3K yaitu Kenali, Konsultasi dan Kendalikan. Orangtua pun merasakan dampak signifikan pada tingkat stres.

Dalam artikel ilmiahnya, Walkner, Warren, dan Gupta (2015) memaparkan berbagai temuan penelitian bahwa alergi pada salah satu anggota keluarga secara signifikan mempengaruhi menu makan untuk keluarga, yang pada akhirnya mempengaruhi perencanaan belanja mereka juga.

Tak hanya cemas memperhatikan tumbuh kembang si Kecil, orangtua juga menghadapi beban ekonomi, seperti biaya pengobatan dan penyembuhan terhadap reaksi alergi yang dialami oleh si Kecil dan juga beberapa gangguan dari dampak jangka panjang alergi.

Si Kecil yang memiliki alergi protein susu sapi rentan mengalami stres dan kecemasan berlebih karena keterbatasan mereka. Tidak maksimalnya kondisi si Kecil bisa jadi membuatnya kurang ceria dan mengalami gangguan bersosialisasi karena tidak bisa selalu hadir di sekolah dan bermain dengan teman-temannya.

“Untuk itu orangtua dianjurkan untuk dapat menangani alergi protein susu sapi pada si Kecil dengan tepat disertai dengan memberikan asupan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhannya agar si Kecil menjadi ceria dan dapat tumbuh kembanya dengan optimal, ” ungkap psikolog anak dan keluarga, Gisella Tani Pratiwi, M. Psi, Psi. Reaksi alergi yang dialami oleh si Kecil juga dapat membuatnya kurang tidur sehingga tubuh mudah lelah dan sulit konsentrasi ketika belajar. Ini pastinya akan menurunkan rasa percaya diri si Kecil di lingkungan sosial. (Junaidi)

77 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan