Senin, 11 Desember 2017

Penyebab Nyamuk Makin Membandel dan Cara Pencegahannya

Kamis, 12/Oktober/2017 17:17:28
Dr. dr. Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI dari Persatuan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi (PETRI), dan Mira Novia saat menjadi nara sumber

SURABAYA (Surabayapost.net) – Sebagai negara tropis, Indonesia rentan terhadap acaman penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Bahkan, menurut data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, Incidence Rate (IR) penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh nyamuk hingga saat ini terus berkontribusi besar dalam meningkatkan jumlah kasus di Indonesia.

Pada tahun 2016, tercatat sebanyak 201.885 orang di 34 provinsi terjangkit DBD dan 1.585 orang meninggal akibat penyakit yang dibawa oleh nyamuk tersebut. Jumlah kabupaten/kota yang terjangkit DBD pun mengalami peningkatan di 2016 dibandingkan angka di tahun 2015.

Di Jawa Timur sendiri, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa selama 2016, telah terjadi 24.005 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan angka kematian yang cukup besar, yakni sebanyak 340 orang.

Berbagai upaya pun telah dilakukan pemerintah dalam mencegah penyebaran penyakit oleh nyamuk, seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus. Namun nyatanya, pengaruh iklim yang semakin panas menjadikan nyamuk sekarang berkembang biak dengan cepat sehingga mengakibatkan semakin tingginya angka penderita penyakit yang disebabkan oleh nyamuk.

Perlu diketahui, nyamuk tidak hanya mengakibatkan penyakit DBD tetapi juga berbagai penyakit yang membahayakan lainnya, seperti Malaria, Chikungunya, dan juga Zika.

Menyadari hal tersebut diatas serta mengingat bahwa setiap tahun kejadian penyakit DBD di Indonesia cenderung meningkat terutama pada pertengahan musim penghujan, maka dari itu perlu diadakan sosialisasi berkelanjutan terhadap masyarakat mengenai bahaya yang disebabkan oleh nyamuk dan penanganannya. Peran serta masyarakat untuk menekan kasus ini juga sangat menentukan.

Sosialisasi itu dilaksanakan dalam Media Briefing dengan tema ”Nyamuk Bandel, Perkembangan dan Wabah yang Ditimbulkan”. Acara ini digelar di Ruang Bali C, JW Marriott Hotel Surabaya, Jl. Embong No.85-89 Surabaya pada Kamis, 12 Oktober 2017.

Terdapat 2 narasumber dalam acara tersebut, yakni Dr. dr. Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI dari Persatuan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi (PETRI), da Mira Novia, M Kes, selaku Kepala Bidang Pencegahan Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya.

Dalam paparannya, dokter Leonard Nainggolan menyampaikan penyebab timbulnya nyamuk membandel serta penyakit yang ditimbulkannya. Menurutnya, perubahan iklim menjadikan cuaca semakin panas. Cuaca semakin panas maka nyamuk akan semakin mudah untuk memggigit karena membutuhkan lebih banyak darah untuk berkembang biak. Oleh karena itu, kita semakin mudah terkena virus yang ditansmisikan oleh nyamuk melalu gigitanya.

Dia juga menyampaikan bahwa nyamuk mampu berdaptasi dengan lingkungan dimana telur nyamuk mampu untuk bertahan hidup tanpa air selama 6 bulan. Kondisi ini menyebabkan semakin banyaknya populasi nyamuk karena mereka dapat berkembang biak dalam bermacam kondisi.

“Nyamuk beregenerasi lebih cepat sebanyak 1.820 kali dibandingkan satu siklus kehidupan manusia. Sarang nyamuk kebanyakan di wadah yang diciptakan manusia, contoh ban bekas, kaleng, dan sebagainya. Seringkali juga kita lupa membuang air tatakan, sehingga tergenang. 1 cc air saja berpotensi sebagai sarang nyamuk,” paparnya.

Hal lain yang dipaparkan dokter Leo ialah pengaruh perubahan iklim terhadap nyamuk semakin membandel. Diantaranya pemanasan global menyebabkan kelembaban, meningkatnya suhu global dapat memperpanjang musim yang bisa meningkatkan habitat vector, meningkatnya curah hujan sehingga banjir, dan kelembaban menjadikan nyamuk dengan mudah berkembang biak dengan cepat karena telur mereka cepat menetas pada suhu panas. Juga meningkatnya suhu yang mengurangi masa inkubasi virus yang dibawa oleh nyamuk.

Karena itu, harus ada upaya pengendalian DBD yakni mengupayakan pembudidayaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus secara berkelanjutan sepanjang tahun dan mewujudkan terlaksananya Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik. Mengupayakan terbentuknya keompok kerja operasional (Pokjanal) DBD di setiap tingkat administrasi dan melakukan revitalisasi Pokjanal DBD yang sudah aada dukungan APBD, dan beberapa lagi,

“3m Plus itu,selain menutup, menguras, dan mengubur, adalah mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air. Dan memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kasa, mengatur ventilasi dan pencahayaan dalam ruangan, mengganti air vas bunga atau tempat minum burung miniml seminggu sekali, menghindari menggantung pakaian dalam kamar, menggunakan obat anti nyamuk, menaburkan bubuk larvasida di tempat penampungan air, dan lain-lain,” kata dokter Leo.

Tidak hanya itu, Dokter Leo juga menyebutkan pengendalian dengan bahan kimia. “Insektisida telah digunakan secara ekstensif untuk pengendalian vector dan terbukti efektif,” ujarnya.

Perlindungan perorangan juga perlu diupayakan, yang meliputi pakaian pelindung melalui lengan panjang dengan stoking, produk insektisida rumah tangga (koil nyamuk, aerosol, electric vaporizer mats, and liquid vaporizers), penolak nyamuk seperti ekstra tumbuhan serai, bahan kimia (DEET, picaridin, permethrin).

Sementara wabah penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk, antara lain demam berdarah dengur (DBD), chikungunya, demam kuning, malaria, dan zika. Berdasarkan data WHO di tahun 2016, penyakit yang ditularkan melalui nyamuk mencakup lebih dari 17% dari semua penyakit menular, menyebabkan lebih dari 1 juta kematian setiap tahunnya.

Lebih dari 2,5 miliar orang di lebih dari 100 negara berisiko tertular demam berdarah.
Dan malaria menyebabkan kematian lebih dari 400,000 orang pertahun secara global dari mayoritas penderita adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun. Berdasarkan data dari WHO 2015, ada sekitar 3,2 miliar orang atau hampir setengah dari populasi dunia berisiko penyakit malaria.

Dalam kesempatan itu, Mira Novia, M Kes, selaku Kepala Bidang Pencegahan Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, menjelaskan upaya yang telah dilakukan Dinkes Surabaya untuk mencegah timbulnya regenerasi nyamuk.

“Di Surabaya sudah banyak dilakukan upaya, salah satunya menerapkan PSN. Kami juga punya Poja DBD, yang dibentuk dengan anggotanya seluruh SKPD. Ada Dinsos (Dinas Sosial), pemerintahan, dan lainnya, termasuk Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Kita punya 63 Puskesmas dan 22.500 Mantri. Kita buat sistem Gemakan Sama-sama (Gerakan Masyarakat Budayakan Satu Rumah Satu Jumantik),” jelasnya.

Dia menambahkan, untuk 1 Jumantik mengawasi 1-12 rumah. Mereka akan membersihkan wilayah yang terutama endemik. Yang bertanggungjawab terhadap wilayah itu ialah Camatnya.

“Nantinya Camat melaporkan ke Walikota Surabaya. Laporan hasil angka bebas jentik (ajb),” pungkasnya. (Junaidi)

173 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan