Senin, 11 Desember 2017

UKM Binaan Telkom di Kampung Herbal Kewalahan Melayani Pesanan

Kamis, 12/Oktober/2017 20:11:22
Ki-Ka : Pudji Harsono, Fahrida Nuraisyah, Moch Samsuri, dan Mahardika Fahruddin

SURABAYA (Surabayapost.net) – Pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Binaan Telkom di wilayah Kampung Herbal di Jl Genteng Candirejo, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, mengaku mengalami hambatan. Kendala itu bukan karena pemasaran, melainkan kapasitas produksi.

Seperti yang diungkapkan Mahardika Fahruddin Rois selaku owner ”Klethikan Suroboyo”. Saat ini, kapasitas produksi Klethikan Suroboyo belum bisa memenuhi pesanan yang diterima. Rata-rata, tiap hari memproduksi 8 kg per hari, sedangkan pesanan yang datang dari pelanggannya di dalam Kota Surabaya maupun luar Kota Surabaya cukup besar.

Produk yang diproduksi ialah Pastel. Ada macam varian pastel yang diproduksinya, yaitu Pastel Garing Manis dan Pastel Garing Pedas. Selain Pastel, IKM di bawah UD Mahardika yang berlokasi di Genteng Candirejo No 16 ini juga memproduksi Setik Goreng Bawang, Setik Goreng Kemangi, dan Setik Goreng Seledri.

Dikatakan Fahruddin, belum terpenuhinya pesanan itu dikarenakan Pastel yang diproduksinya masih handmade, bukan menggunakan mesin dengan kapasitas besar. Tapi, dia menargetkan pada tahun 2018 nanti, produksinya bisa meningkat minimal 15 kg per hari.

Dengan bertambahnya kapasitas produksi itu, maka alur distribusinya ke beberapa pelanggannya bisa diatur sesuai dengan pesanan. Misalnya didistribusikan ke toko, saat pameran, dan stok di tempat produksinya.

“Sekarang ini, kami belum bisa mengatur distribusinya. Saat banyak permintaan datang, kadang kami kehabisan stok. Biasanya jika ada pameran, kita keluar 10 kg. Itu belum stok di toko-toko,” jelasnya.

Pengakuan yang sama diungkapkan Fahrida Nuraisyah, yang juga owner ”Klethikan Suroboyo”. Dia menjelaskan, pada momen tertentu, dia kewalahan. Sempat permintaan itu dipenuhi dengan bekerjasama UKM lainnya, tapi hal itu dikomplain pelanggannya. Alasannya, rasa pastel yang diproduksi UKM lain itu beda rasanya.

“Jadi sekarang tidak kerjasama lagi, dan produksi sendiri berapapun hasilnya. Prinsipnya, jangan mengurangi kualitas. Kami tidak pernah bermain di harga, tapi kualitas. Kami juga pernah ditawari bermitra dengan Go Jek, tapi belum berani kerjasama karena kesiapan produksi,” ujarnya.

Atas kondisi itulah, Fahrida Nuraisyah berharap Telkom sebagai mitranya bisa memberikan pinjaman lagi dengan pagu yang lebih tinggi. Sehingga dia bisa meningkatkan kapasitas produksinya. Saat ini, pagu pinjaman bergulir yang disalurkan Telkom mulai Rp 10 juta sampai Rp 75 juta.

“Kami harap limit pinjaman diperbanyak sampai Rp 150 juta. Dan beban administrasinya juga diturunkan,” harap Fahrida kepada perwakilan Telkom Jatim Bali Nusra dan Telkom Witel Surabaya saat kunjungan kerja (kunker) ke Kampung Herbal Genteng Candirejo Surabaya.

Menanggapi itu, Pudji Harsono selaku Asisten Manejer CDC Community Development Center Telkom Witel Surabaya mengakui bahwa Telkom menyalurkan pinjaman bergulir berdasarkan proposal yang diajukan oleh UKM atau IKM. Kebetulan, dari 15 UKM yang ada di Kampung Herbal Genteg Candirejo, sebanyak 8 diantaranya merupakan binaan Telkom.

Pudji Harsono melakukan kunker ke Kampung Herbal bersama Moch Samsuri (Assisten Manajer Progrm PKBL Telkom Jatim Bali Nusra) serta Moch Solichin dan beberapa manajemen Telkom, pada Kamis 12 Oktober 2017. Lebih lanjut, Sudarsono menjelaskan, sebelum Telkom menggelontorkan pinjaman bergulir itu, terlebih dahulu memberikan pembekalan, setelah itu pembinaan.

Pembinaan dimaksudkan aga UKM bisa lebih maju lagi. Karena, Telkom tidak hanya menyalurkan pinjaman bergulir, tapi juga memberikan fasilitas lain berupa pembinaan, pelatihan, dan diajak ke beberapa pameran skala lokal maupun nasional.

“Yang kami ajak ikut pameran ialah UKM dengan produknya food, craft, dan fashion. Di setiap kelompok UKM binaan Telkom yang mau ikut pameran, maka kita menghubungi ketuanya dulu. Seperti disini, ada Komunitas UKM Gencar (Genteng Candirejo),” katanya.

Terkait dengan pinjaman bergulir itu, dia memberi kabar baik bahwa administrasi yang dikenakan kepada mitra binaan Telkom sekarang ini turun. Yang tadinya sebesar 6% menjadi 3%.

“Mulai Oktober ini turun jadi 3%. Tapi limit pinjaman masih Rp 75 juta. Untuk ditingkatkan lagi, akan kami ajukan ke pimpinan,” katanya. (Junaidi)

222 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan