Kamis, 14 Desember 2017

Kota Malang Dinilai Belum Ramah pada Penyandang Difabel

Rabu, 6/Desember/2017 20:38:00
Selter bus terminal Arjosari belum ada escalator untuk difabel

MALANG (surabayapost.net) – Kota Malang dinilai masih belum ramah pada warga penyandang digabel. Sebab, hingga saat ini belum semua fasilitas umum yang ada ramah pada penyandang difabilitas tersebut.

Berdasarkan pengamatan di lapangan ada beberapa lokasi yang belum memiliki akses yang baik bagi para difabel. Misalnya halte-halte kendaraan umum. J

Begitu juga beberapa gedung pemerintahan seperti gedung Balaikota Malang. Sampai saat ini belum ada akses untuk kursi roda maupun pagar pengaman bagi penyandang tunanetra.

Malanya, Forum Masyarakat Peduli Kesehatan (FMPK) bersama Malang Corruption Watch (MCW) memberikan rekomendasi bagi pelaksanaan penyelenggaraan kesehatan di Kota Malang. Sebab selama ini kedua lembaga tersebut mendapat berbagai pengaduan dari masyarakat.

Untuk itu FMPK meminta kepada Pemerintah Kota Malang menganggarkan renovasi sarana dan prasarana kesehatan. Sehingga memenuhi standar aksesibilitas.

FMPK juga menekankan pentingnya keterlibatan organisasi difabel dalam proses hingga uji coba sarana dan prasarana kesehatan. Sebab menurut anggota Bidang Kajian dan Publikasi FPMK Antonius Esthi menyebut, Pemkot Malang sudah mulai melakukan program kesehatan inklusif.

“Hanya saja, peningkatan kualitas dan fasilitas masih harus ditambah. Terutama di lokasi-lokasi publik,” mohonnya dengan jujur.

Hal senada juga dikatakan anggota FMPK Fachrudin. Dia mengungkapkan masih diperlukan keterbukaan informasi dan kerja sama antar pihak dan instansi agar bisa saling melengkapi.

Ia membeber bahwa hasil pendataan yang dilakukan Forum Malang Inklusi (FOMI) pada sejumlah puskesmas dan rumah sakit di Kota Malang, belum sepenuhnya memiliki akses bagi difabel.

Beberapa puskesmas, lanjutnya, sudah melengkapi ramp (plengsengan) dan handrail untuk pengguna kursi roda dan runing text atau informasi tulisan yang bermanfaat bagi warga tuna rungu. “Namun rata-rata untuk kamar mandi masih belum standar aksesibilitas, sempit dan tak ada ruang sirkulasi bagi kursi roda,” kata Fachrudin.

Sementara, untuk rumah sakit rata-rata sudah ada akses namun masih memerlukan loket khusus difabel dan tempat parkir kendaraan khusus. Ia juga mengharapkan adanya home visiting yaitu layanan kesehatan bagi difabel yang terhambat mobilitasnya karena kondisi fisik maupun mentalnya.

“Kami harap kepedulian pemerintah bukan hanya slogan, tetapi dibuktikan dengan kebijakan pembangunan infrastruktur maupun peraturan yang mendukung akses penyandang difabilitas,” tandasnya. (doddy rizky)

114 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan