Kamis, 14 Desember 2017

Mantan Pemimpin Suara Indonesia Kirim Surat Terbuka kepada Mendikbud

Kamis, 7/Desember/2017 12:38:45
Peter Apollonius Rohi dan Muhajir Effendy

KUPANG (Surabayapost.net) – Nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendy mendapat sorotan tajam dari orang Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca pernyataannya di Harian Jawa Pos tanggal 4 Desember 2017.

Dalam berita berjudul “Kualitas Pendidikan RI Masuk Ranking Bawah”, Menteri Muhajir bilang bahwa dia khawatir yang dijadikan sampel dalam survey PISA ialah siswa-siswa NTT. Saat itu, dia menanggapi survey Program for International Students Assessment (PISA).

Kliping koran Jawa Pos yang memuat pernyataan Muhajir Effendy
Kliping koran Jawa Pos yang memuat pernyataan Muhajir Effendy
Dalam pemeringkatan PISA 2015, posisi Indonesia berada di urutan ke-72. Indonesia kalah jauh oleh Vietnam yang berada di urutan ke-8.

Merasa pendidikan di NTT direndahkan, pria asal NTT yang juga alumnus STIKOSA AWS Surabaya, Peter Apollonius Rohi langsung menulis surat terbuka kepada Menteri yang pernah jadi rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini. Surat terbuka itu ditulis pada Rabu, 6 Desember 2017. Berikut isi lengkapnya :

SURAT TERBUKA UNTUK MENTERI PENDIDIKAN.

Terus terang pernyataan sampean yang dimuat di Jawa Pos tgl. 4 Desember membuat saya sangat kecewa. Sekali lagi sangat kecewa, karena sangat merendahkan pendidikan orang2 NTT. Ketika saya masih memimpin koran Suara Indonesia di Malang 1982 – 1984, sebagai Redaktur Pelaksana, sampean beberapa kali datang ke kantor saya menitipkan tulisan sampean untuk dimuat.

Sebagai penentu di koran itu saya ingin menjadikan para penulis baru di Malang memberi kesempatan untuk berkembang. Sampean pun beberapa kali meminta kami dari Suara Indonesia mengajar jurnalistik di kampus sampean.

Seingat saya pada saat itu banyak dosen senior asal NTT mengajar juga di kampus2 di Malang seperti Dr Pigawahi dll. Rektor ITN Malang juga Prof. Dr Ir Abraham Lomi berasal dari NTT. Dr Willa Huki sebelum meninggal sempat mnidrikan sebuah Universitas di Malang.

Ketika Republik ini baru berdiri, sarjana kita hanya 90-an orang. Saat itu NTT telah memiliki 3 orang Professor dan beberapa dokter dan mester inderechten (Sarjana hukum). Dua professor itu, Prof. Dr W. Z Johannes menjadi rektor di UI dan Prof. Dr Ir H. Johannes Rektor UGM. Sedang Prof. J. L. Ch. Abinineno ikut mendirikan Sekolah Tinggi Theologia, Jakarta.

Di Palembang, dekan pertama FE Sriwijaya adalah Dr Sam Tanya. Bukan itu saja. Pemimpin Sekolah pendidikan Kepolisian di Mojokerto adalah Jonathan Rohi, dan Pendidikan AL pertama di Tegal dipimpin Mayor Laut Alexander Abineno.

Generasi berikut Prof Thobie Mutis dan Martin Thomas juga menjadi rektor pada Universitas2 tersohor di Jakarta. Belum beberapa profesor yang mengajar di Universitas2 lain seperti Prof. Likadja di Unhas Makassar, dan Prof. Nico Kana di Salatiga dll. Bahkan Prof Dr Willy Toisuta menjadi rektor di sana.

Coba, iseng2 Pak Menteri menghitung berapa ribu jumlah mahasiswa mereka yang sudah tersebar yang menjadi agen pembangunan di negeri ini. Tentu dalam kedudukan tinggi sekarang, saya tak heran apabila sampean sudah lupa siapa penulis surat ini.

Salam hormat saya.
Peter A. Rohi, Rangkas Bitung.

Sampai dengan berita ini ditulis, Surat terbuka yang dipublikasikan melalui Facebook ini dibagikan oleh 723 pengguna media sosial, dan 410 komentar, serta 1300 suka. Salah seorang pengguna akun faceboon bernama Natalia Bisik berkomentar, “Terima kasih Bapak Peter Apollonius Rohi atas surat terbuka ini, akhirnya kami generasi NTT yang baru ini bisa tahu kalau Anak2 NTT juga mendapat kepercayaan dan berprestasi untuk mendapatkan jabatan yang penting di luar sana. Pak Mentri yang dimuliakan kalau kasih statement harus berpikir terlebih dahulu, sehingga statement tersebut menjadi full of meaning bukan menjadi meaningless dan menjadi cibiran. Seharusnya kita Indonesia juga perlu berefleksi diri dengan sistem kurikulum pendidikan yang selalu berubah-ubah, setiap ganti menteri pasti kurikulumnya berbeda, mana belum diterima dan dipahami kurikulum nya sudah diganti lagi dengan kurikulum yang baru, ini seperti bisnis begitu dan yang paling parah adalah kita sepertinya tidak percaya diri dengan sistem pendidikan kita.” (Junaidi/ins)

326 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan