Kamis, 14 Desember 2017

Meski Bergelar Haji, Dirut PT Global Access Nekat Tipu Para Calon Jamaah Haji

Rabu, 6/Desember/2017 18:54:56
Yunus Yamani, Dirut PT Global Access Tour and Travel (kiri) saat menjalani persidangan di PN Surabaya, Rabu (6/12/2017).

SURABAYA (surabayapost.net) – Yunus Yamani, Direktur Utama (Dirut) PT Global Access Tour and Travel duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (6/12/2017). Pria bergelar haji ini diadili lantaran telah mengembat uang para calon jamaah haji dengan modus promosi ‘bayar satu, gratis satu’.

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muhammad Usman dijelaskan, kasus penipuan ini terjadi berawal saat Yunus Yamani selaku Dirut PT Global Acces sepakat melakukan kerjasama dengan Dicky Mastur Ahmad dan Harika Oscar Perdana (berkas terpisah) di bidang pemberangkatan haji plus. Dari kerjasama itulah, akhirnya Yunus selaku Dirut PT Global Access menggelar program pemberangkatan haji plus pada 2012. “Padahal pada 2012, PT Global Access belum memgantongi izin pemberangkatan haji,” kata jaksa Usman usai persidangan.

Meskipun tak mengantongi izin, Yunus tetap nekat menggelar program pemberangkatan haji plus. Parahnya lagi, untuk menarik masyarakat, Yunus bersama Dicky dan Harika membuat program promosi pemberangkatan haji plus ‘Bayar 1 Gratis 1’. “Dengan membayar biaya sekitar USD 9.000, maka peserta akan mendapatkan keberangkatan untuk 2 orang dengan jadwal keberangkatan pada tahun 2016,” bebernya.

Dari situlah, dengan menggunakan nama PT Global Access akhirnya Dicky dan Harika kemudian menggelar seminar di Hotel Meritus (sekarang Pullman) pada September 2012. Untuk memuluskan programnya, Dicky dan Harika mengajak kerjasama dengan Cahyono Kartika, Direktur PT Al Madinah (pelapor). “Di seminar tersebut Dicky dan Harika memakai tipu muslihat saat presentasi program Bayar 1 Gratis 1 di hadapan masyarakat. Hal itu dilakukan untuk menarik minat masyarakat,” katanya.

Jaksa Usman menjelaskan, karena banyak masyarakat Surabaya yang tertarik untuk mendaftar, maka Dicky dan Harika menugaskan PT Al Madinah untuk mengkordinir pembayaran peserta program tersebut. Dana pendaftaran program dengan total sebesar USD 717 ribu atau Rp 8,8 miliar kemudian ditransfer PT Al Madinah ke rekening PT Global Access.

Namun kenyataannya, calon jemaah haji yang tidak bisa berangkat sebanyak 70 orang karena karena tidak mendapatkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Hal itu dikarenakan uangnya tidak disetor oleh PT Global Access untuk mendapatkan jatah kursi.

Karena hal itulah, Cahyono selaku Direktur PT Al Madinah otomatis mendapat komplain dari para calon jamaah haji yang tidak bisa berangkat. PT Al Madinah pun akhirnya merugi sebesar Rp 4 miliar. Atas perbuatannya, jaksa Usman menjerat Yunus Yamani dengan pasal 378 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. (Arifan)

1,618 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan