Kamis, 14 Desember 2017

Pemecahan Rekor MURI Tari Topeng Bapang Dicurigai Beraroma Politik

Selasa, 5/Desember/2017 14:07:42

MALANG (surabayapost.net) – Pemecahan rekor MURI tari topeng bapang di Pantai Nganteb, Minggu (3/12/2017) lalu dicurigai ada politisasi. Kecurigaan itu diungkapkan pecinta dan pelaku seni Topeng Kabupaten Malang, Suroso, Selasa (5/12/2017).

Menurut dia tari bapang yang dilakukan 5.000 siswa SD dan SMP se-Kabupaten Malang itu memakai atribut dengan warna dominan biru. “Itu tak sesuai pakem,” papar dia.

Menurut Suroso warna dasar wajah topengnya berkarakter merah sudah benar. Tapi motif ukirannya kata dia seharusnya tidak diblok biru. Itu pun harus ada bentuk ragam hias, seperti garuda mungkur, ceplok surya dan lainnya

“Memang dalam pakem Topeng Malangan ada kombinasi lima warna dasar yakni, merah sebagai perlambang keberanian, putih sebagai lambang kesucian, hitam sebagai lambang kebijaksanaan. Lalu kuning sebagai lambang kesenangan, dan hijau sebagai lambang kedamaian,” ucap Suroso.

Apabila dilakukan perubahan pada pakem yang telah ada kata dia berarti secara langsung juga mengubah arti dan filosofis topeng bapangan itu sendiri. Adanya perubahan warna di Topeng Bapang yang dipakai dalam pagelaran topeng massal di Pantai Nganteb lalu, memang didominasi dua warna yaitu merah sebagai warna dasar wajah topeng dan biru di mahkotanya.

“Biru itu garis-garis di ornamennya, bukan ngeblok seperti yang ditampilkan kemarin,” ujar Suroso.

Selain itu, lanjut Suroso, terjadinya perubahan warna dalam topeng bapang tersebut cukup mengecewakan para pelaku dan pecinta seni topeng di Malang Raya, walaupun pembuatan Topeng Bapang yang dilakukan oleh Sanggar Asmarabangun di Kedungmonggo, Pakisaji.

“Walaupun Handoyo itu salah satu penerus topeng Kedungmonggo (cucu almarhum mbah Karimun). Akan tetapi seharusnya tidak begitu saja mengganti warna, minimal ya perlu omong-omonganlah kalau mau ganti seperti itu, sebab Topeng Malangan merupakan milik seluruh masyarakat, bukan lagi milik perorangan,” imbuhnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara mengatakan, bahwa perubahan warna dari pakem yang ada dalam Topeng Bapang tersebut tidak ada unsur politisasi kesenian dan perubahan warna di mahkota Topeng Bapang tersebut dipakai untuk melambangkan air laut yang dijadikan tempat perlehatan tari Topeng Bapang tersebut, oleh sebab itu warna khas wajah Topeng Bapang tetap dipertahankan, yaitu warna merah menyala.

“Tidak ada politisasi dalam persoalan ini. Ini murni dalam rangka memperkenalkan seni Topeng Bapang secara massif. Sebab Tari Bapang ini dilaksanakan di pinggir pantai. Biru itu melambangkan warna laut. Jadi tidak ada politisasi seperti yang merebak di masyarakat, kita tentunya juga menghormati tradisi dan tidak berani merubah sesuatu secara radikal. Apalagi menungganginya dengan kepentingan politik,” tegas Made Arya Wedanthara yang akrab disapa Made saat dihubungi melalui telepon selulernya, Selasa (5/12).

Pengerjaan 5.000 topeng bapang yang dilakukan oleh Padepokan Asmorobangun, Pakisaji dan menelan waktu selama 3 bulan memang menjadi kendala tersendiri dalam penyelesaiannya.

Selain pengerjaan dilakukan oleh ratusan masyarakat sekitar padepokan, musim hujan juga membuat kendala.Padahal, lanjut Made, menurut jadwal pengerjaan dengan jumlah 5.000 unit topeng membutuhkan waktu sekitar 4 bulan.

“Artinya, memang waktu yang mepet serta pemerataan pembuatan topeng juga bisa jadi faktor terjadinya hal tersebut,” ucap Made yang juga mengucapkan terimakasih kepada masyarakat yang memberikan masukan mengenai hal tersebut.

Di satu sisi adanya polemik mengenai Topeng Bapang menjadi hal positif dalam konteks persoalan dalam rasa memiliki kesenian peninggalan leluhur ini. Artinya, kecintaan terhadap kesenian Malangan terus tumbuh dalam masyarakat.

“Semakin banyak orang yang memperhatikan Topeng Bapangan, semakin baik,” pungkas Made. (tosky)

120 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan