Kamis, 14 Desember 2017

Terancam 15 Tahun, Pemilik Seribu Pil Koplo Hanya Divonis 2 Tahun

Rabu, 6/Desember/2017 15:15:17

SURABAYA (surabayapost.net) – Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menjatuhkan hukuman dua tahun penjara terhadap Herman Prasetya dan Angga Adi Prasetya, dua terdakwa kasus kepemilikan seribu pil koplo. Vonis ini merosot jauh dari ancaman hukuman pada pasal yang dijeratkan jaksa penuntut umum.

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang diketuai Tahsin menyatakan, kedua terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana memproduksi dan mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar. Atas dasar itulah, hakim Tahsin langsung menjatuhkan vonis dua tahun kepada kedua terdakwa.

Sementara itu, jaksa penuntut umum Darwis membenarkan bahwa dua terdakwa telah divonis oleh majelis hakim yang diketuai Tahsin. “Sidang vonisnya sudah beberapa waktu lalu, kedua terdakwa divonis dua tahun,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (6/12/2017).

Selain itu, lanjut Darwis, hakim Tahsin juga menjatuhkan vonis berupa denda terhadap kedua terdakwa. Oleh hakim yang beberapa waktu menunaikan ibadah haji ini, kedua terdakwa dijatuhi denda Rp 100 juta, subsider satu bulan kurungan.

Jaksa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya ini menjelaskan, sebelum vonis dijatuhkan hakim Tahsin, kedua terdakwa telah lebih dulu dituntut hukuman tiga tahun penjara. “Saya ajukan tuntutan tiga tahun untuk masing-masing terdakwa,” terang Darwis.

Namun sayangnya saat ditanya apakah kedua terdakwa dan dirinya selaku jaksa penuntut umum menerima vonis tersebut, Darwis enggan memberikan jawaban. Beberapa kali pertanyaan via ponselnya tak dijawab oleh jaksa Darwis.

Perlu diketahui, Herman Prasetya dan Angga Adi Prasetya ditangkap polisi di dua tempat terpisah pada Juni 2017. Herman ditangkap saat berada di Kampung Malang Kulon, sedangkan Angga ditangkap saat berada di Jalan Tempel Sukorejo.

Keduanya ditangkap hasil dari pengembangan tersangka Dicky Teguh Wicaksono, bandar pil koplo jenis double L (berkas terpisah). Dari penangkapan Herman dan Angga, polisi berhasil menyita barang bukti pil koplo jenis double L sebanyak 1128 butir.

Dalam dakwaan disebutkan, Herman membeli barang haram tersebut dari Angga dengan harga Rp 670 ribu. Atas perbuatannya, Herman dan Angga dijerat pasal 106 ayat 1 Jo pasal 197 dan pasal 98 ayat 2 dan ayat 3 Jo pasal 196 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan.

Merujuk pada pasal-pasal tersebut, Herman dan Angga sebenarnya terancam hukuman maksimal selama 15 tahun penjara. Namun ternyata hakim Tahsin berpendapat lain dan hanya menjatuhkan hukuman dua tahun penjara. (Arifan)

1,095 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan