Kamis, 14 Desember 2017

Wasekjen Peradi: Hati-hati Pakai Jurus OOJ

Selasa, 5/Desember/2017 13:42:50
Wasekjen DPN Peradi, Imam Hidayat SH MHum

MALANG (surabayapost.net) – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPN Peradi, Imam Hidayat mengingatkan para advokat agar hati-hati memakai jurus obstruction of jusctice (OOJ). Peringatan itu disampaikan Ketua Ikadin Malang periode 2012-2017 ini saat di Malang, Selasa (5/12/2017).

Alasan Imam Hidayat harus hati-hati memakai strategi OOJ itu karena akhir-akhir ini ada kecenderungan disalahgunakan. Menurut dia memang ada beberapa pengacara yang berpotensi memanfaatkan jurus tersebut secara liberal.

Padahal, menurut dia, jurus OOJ bersifat itu abu-abu. Hal itu, kata Imam Hidayat, di satu sisi bisa menunjukkan bahwa profesi advokat juga memiliki dedikasi yang tinggi terhadap nilai-nilai kemanusian.

Namun, lanjut tokoh advokat Indonesia ini, sebaliknya. Strategi OOJ itu bisa mengantar profesi advokat pada jurang degradasi. “Itu kalau membabi buta,” kata dia.

Dijelaskan Imam Hidayat bahwa istilah OOJ itu akhir-akhir ini begitu populer. “Sering kita lihat dan dengar lewat media elektronik. Kita juga sering baca di media masa maupun media sosial,” papar dia.

Menurut pria yang akrab disapa IH ini, arti bahasa dari obstruction of justice itu menghalangi proses keadilan. Bisa juga, tutur pria ramah ini, diartikan dalam praktek hukum pidana sebagai atraksi atau akrobat untuk menghalang-halangi suatu proses hukum pidana yang sedang berjalan dan dialami seseorang tersangka atau terdakwa.

Proses menghalang-halangi dalam konteks tersebut, papar dia, bisa dilakukan oleh tersangka atau terdakwa atas saran advokat. Tujuannya sebagai upaya untuk memberikan pembelaan terhadap kliennya.

“Itu berarti OOJ sebagai strategi pembelaan dalam perkara pidana yang bisa dilakukan pengacara. Jurus semacam itu sah-sah saja. Ya sepanjang bisa diterima logika awam dan logika hukum,” tegas IH.

Advokat bergelar magister hukum ini memberi contoh kalau klien yang dibela dalam kondisi benar-benar sakit. Demi alasan nilai-nilai kemanusiaan jurus OOJ itu bisa dan harus dipakai.

Sang klien, kata dia, harus dibela mati-matian agar untuk sementara tak menjalani proses hukum pidana yang dialami. “Kalau semacam itu bisa dibenarkan,” kata dia.

Namun, lanjut IH, apabila jurus itu dipakai demi mengulur-ulur waktu apalagi untuk menghentikan proses hukum yang sedang berjalan, tentu sangat-sangat salah besar. Sebab, sang pengacara tersebut sudah melanggar kode etik profesi, moral dan kepatutan. Sehingga pemakaian jurus OOJ itu bisa saja justru membuat blunder pada kliennya.

Karena itu, IH berharap agar para advokat berhati-hati menerapkan strategi jurus OOJ itu. “Sebab, hukum pidana adalah hukum pembuktian materiil. Bukti-bukti akan menjadi petunjuk dan dasar bagi hakim membuat konstruksi dan pertimbangan dalam memutuskan perkara tindak pidana. Sehingga jika advokat salah menerapkan stategi OOJ, kliennya malah bisa jadi korban,” pungkasnya. (agus susanto)

264 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan